Sungguh inspiratif dan mengusik nurani, tulisan yang tersaji di link ini. Sebuah pengalaman unik dibagikan oleh Abrar dan Alif bersama kedua
orang tua mereka. Tindakan Abrar dan Alif yang melaporkan kecurangan
saat pelaksanaan UN di sekolah mereka bagaikan riak kecil di tengah
samudra praktek ketidakjujuran di negeri ini. Peristiwa itu juga
mencerminkan bobroknya sistem pendidikan kita, terutama terkait
pelaksanaan Ujian Nasional. Sekolah yang mestinya menanamkan nilai-nilai
moral untuk membentuk karakter pribadi yang unggul, justru mengajarkan
praktik ketidakjujuran. Pihak sekolah atau pendidik tentu ingin semua
peserta didiknya lulus dan prestise sekolah mereka terangkat. Kebanyakan
orang tua pun pasti menginginkan anaknya lulus dengan nilai baik, meski
tak peduli prosesnya. Namun, apakah niat baik itu mesti ditempuh dengan
menghalalkan segala cara? Apakah sistem pendidikan kita turut andil
dalam mengondisikan pihak sekolah, peserta didik dan orang tua
mengutamakan nilai UN dan tingkat kelulusan daripada output pribadi
peserta didik yang berkepribadian baik?
Monday, April 8, 2013
BASMI "THE INVISIBLE POWER" PERONGRONG KEADABAN PUBLIK
Aksi kekerasan dan inflasi yang meresahkan
Meningkatnya aksi
kekerasan dan inflasi karena naiknya harga beberapa produk hortikultura
semakin meresahkan masyarakat. Hampir setiap hari masyarakat disodori
berita tentang kekerasan di ruang publik yang dilakukan oleh para
preman, aparat (TNI, Polri), masa pendukung calon bupati, dan warga
sipil. Masyarakat juga resah oleh naiknya harga produk hortikultura
terutama bawang putih dan cabai, menyusul daging sapi beberapa waktu
lalu. Keresahan masyarakat itu rentan memicu aksi main hakim sendiri
ketika ada peluang untuk menangkap pelaku kejahatan di ruang publik. Bila
aksi kekerasan dan naiknya harga kebutuhan pokok tidak segera ditangani
serius dikhawatirkan dapat menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat pada
pemerintah dan aparat penegak hukum.
Berbagai pertanyaan
bisa muncul terkait kondisi keresahan itu. Mengapa aksi-aksi kekerasan
dan naiknya harga kebutuhan pokok tersebut terjadi? Adakah pihak-pihak
yang sengaja menciptakan kondisi tersebut? Apakah maraknya aksi
kekerasan dan naiknya harga kebutuhan pokok ada kaitannya dengan naiknya
suhu politik menjelang pemilu 2014? Siapa yang paling diuntungkan oleh
keresahan dan ketidakpercayaan masyarakat tersebut? Meski belum ada
jawaban pasti, kiranya masyarakat patut waspada terhadap kemungkinan
adanya kekuatan tersembunyi yang bermain di balik kondisi ini.
Thursday, April 4, 2013
PERGESERAN PARADIGMA UNTUK SELAMATKAN HUTAN INDONESIA
Kerusakan hutan dan peran Indonesia
Seperti kita ketahui, perubahan
iklim (climate change) menjadi
masalah global yang dihadapi dunia dewasa ini. Perubahan iklim merupakan bagian
dari krisis ekologis yang mendesak untuk diatasi agar keseimbangan ekologis
terjaga dan dunia menjadi tempat yang layak huni. Salah satu penyebab perubahan
iklim yang terjadi di Indonesia adalah laju deforestasi dan degradasi yang
begitu tinggi. Data tentang laju deforestasi (penggundulan dan pengalihan
fungsi lahan hutan) di Indonesia memang berbeda-beda, misalnya Bank Dunia
menyebut 700.000-1.200.000 ha/tahun. Sedangkan FAO menyebutkan laju kerusakan
hutan di Indonesia mencapai 1.315.000 ha per tahun atau setiap tahunnya luas
areal hutan berkurang sebesar satu persen (1%). Berbagai LSM peduli lingkungan
mengungkapkan kerusakan hutan mencapai 1.600.000 – 2.000.000 ha per tahun.
Bahkan lebih tinggi lagi data yang diberikan Greenpeace, yakni mencapai
3.800.000 ha per tahun. Semua data itu menunjukkan parahnya kerusakan hutan di
Indonesia.[1]
Padahal Indonesia termasuk 3 besar negara yang memiliki hutan terluas di dunia,
namun sekaligus menjadi emiter (penghasil karbon yang lepas ke atmosfir secara
sangat signifikan) nomor empat setelah China, India, Amerika Serikat (AS)[2]
Wednesday, April 3, 2013
BONUM COMMUNE
Entah siapa yang pertama kali memunculkan gagasan bahwa tahun 2013 ini adalah “tahun politik” (mungkin ada yang tahu?). Yang pasti gagasan itu dimunculkan bukan tanpa maksud. Ada dugaan bahwa tahun ini menjadi sangat krusial untuk mempersiapkan pemilihan Presiden tahun 2014. Menginjak bulan keeempat di tahun 2013 ini suhu politik memang terasa sudah mulai memanas dengan berbagai peristiwa yang melibatkan tokoh-tokoh politik terutama anggota legislatif, tokoh partai, pejabat pemerintah atau lembaga negara. Partai politik mulai berkonsolidasi internal sembari membuka pendaftaran calon legislatif kepada publik. Bersamaan dengan itu banyak politisi yang tersandung kasus hukum yang menjadikan mereka tersangka bahkan terdakwa. Para pejabat pemerintah sampai petinggi negara alih-alih fokus mengurus negara justru sibuk mengurus konflik internal di tubuh partainya. Kasus-kasus yang melibatkan petinggi partai juga sering dijadikan komoditas untuk saling menggembosi kekuatan lawan politiknya. Fenomena tersebut seakan menunjukkan bahwa politik itu identik dengan kekuasaan semata. Para politisi sibuk membangun citra diri dan partainya untuk mengejar kursi kekuasaan terutama di tingkat legislatif dan eksekutif. Apa yang mereka harapkan dari kekuasaan itu? Tentunya pengaruh untuk bisa menentukan kebijakan publik dan memastikan bahwa kepentingan diri/partai dapat terpenuhi. Lebih celaka lagi bila mereka mengejar kekuasaan semata untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Kalau motivasinya mencari kekayaan, seharusnya mereka tidak menjadi politisi tapi menjadi pebisnis atau pengusaha.
Thursday, March 21, 2013
3 JURUS AMPUH MERAIH KEBAHAGIAAN
Semua orang ingin meraih kebahagiaan dalam hidup. Bahagia di dunia, dan
nantinya bahagia di akhirat. Itulah tujuan atau impian yang kita kejar
dalam hidup ini. Persoalannya, kebahagiaan itu ternyata tidak mudah
diraih. Butuh kiat khusus. Jurus ini sungguh ampuh atau tidak untuk
meraih kebahagiaan, pertama-tama tergantung pada pemahaman kita tentang
kebahagiaan.
Ada banyak persepsi tentang kebahagiaan itu. Persepsi akan kebahagiaan itu akan sangat menentukan upaya kita dan hasil akhir yang akan kita raih: kebahagiaan yang sejati atau kebahagiaan yang dangkal, semu dan sementara. Kadang kita memiliki konsep yang kurang tepat atau kurang jelas tentang tentang kebahagiaan. Yang kita bayangkan dan kejar adalah kebahagiaan yang semu atau ternyata hanya kesenangan sesaat. Kebahagiaan seringkali kita sangka terletak pada kelimpahan materi, kekuasaan, kesuksesan, prestise dan popularitas. Padahal semua itu hanyalah sarana (yang bersifat relatif dan sementara), bukan tujuan sebenarnya yang akan kita raih. Maka pemahaman yang benar tentang kebahagiaan menjadi sangatlah penting agar kita dapat meraih kebahagiaan yang sejati.
Tuesday, March 19, 2013
TUA ITU PASTI, DEWASA ITU PILIHAN
Saat ini
semakin banyak orang memiliki fasilitas hidup yang lengkap,
tetapi semakin kehilangan makna hidup.
Banyak masalah dalam hidup ini terjadi
karena setiap org hanya ingin dimengerti
tetapi tidak mau mengerti.
Dunia saat ini penuh dengan orang-orang yang saling 'menjegal'.
Jegal menjegal bukan ciri anak-anak TUHAN.
Menjadi orang penting itu baik,
tetapi
jauh lebih penting menjadi orang baik.
Sibuk mencari kesalahan orang,
tak akan membuat kita lebih baik darinya.
semakin banyak orang memiliki fasilitas hidup yang lengkap,
tetapi semakin kehilangan makna hidup.
Banyak masalah dalam hidup ini terjadi
karena setiap org hanya ingin dimengerti
tetapi tidak mau mengerti.
Dunia saat ini penuh dengan orang-orang yang saling 'menjegal'.
Jegal menjegal bukan ciri anak-anak TUHAN.
Menjadi orang penting itu baik,
tetapi
jauh lebih penting menjadi orang baik.
Sibuk mencari kesalahan orang,
tak akan membuat kita lebih baik darinya.
Monday, March 18, 2013
KESEDERHANAAN PEMIMPIN: “OASE PENGHARAPAN" BAGI MASYARAKAT
Masyarakat Indonesia dan dunia akhir-akhir ini sedikit terhibur dengan hadirnya beberapa pemimpin yang menunjukkan cara hidup sederhana. Sebut saja misalnya Jokowi-Ahok, Mahfud MD, Dahlan Iskan, dan Paus Fransiskus memberi kesaksian hidup sebagai pemimpin yang memilih cara hidup sederhana di tengah berbagai fasilitas, kemudahan dan peluang yang selayaknya mereka nikmati. Itu semua seakan menjadi sebuah “oase” di tengah gelimangnya fasilitas dan kemewahan yang dinikmati sebagian besar pejabat publik kita. Masyarakat sudah lelah dan muak akan kemewahan yang didapat dari kekuasaan, korupsi dan penyalahgunaan kewenangan yang dilakukan banyak pejabat publik, wakil rakyat dan tokoh partai. Penggunaan fasilitas, pemborosan uang rakyat dan penggelapan anggaran yang diikuti cara hidup yang serbah “wah” sungguh melukai hati dan rasa keadilan masyarakat kita. Airmata masyarakat yang sudah mengering karena luka hati yang terlalu dalam kini mendapat penghiburan dan harapan dengan munculnya tokoh-tokoh sederhana, berintegritas, jujur dan mengabdi dengan penuh dedikasi pada kepentingan rakyat. Upaya KPK mengusut berbagai kasus korupsi dan penyucian uang memperkuat harapan masyarakat dan patut terus kita dukung.
Subscribe to:
Posts (Atom)





