/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}
Showing posts with label pendidikan dan budaya. Show all posts
Showing posts with label pendidikan dan budaya. Show all posts

Monday, April 8, 2013

BERANI JUJUR, HEBAT! (UJIAN NASIONAL = UJIAN KEJUJURAN)

Sungguh inspiratif dan mengusik nurani, tulisan yang tersaji di link ini. Sebuah pengalaman unik dibagikan oleh Abrar dan Alif bersama kedua orang tua mereka. Tindakan Abrar dan Alif yang melaporkan kecurangan saat pelaksanaan UN di sekolah mereka bagaikan riak kecil di tengah samudra praktek ketidakjujuran di negeri ini. Peristiwa itu juga mencerminkan bobroknya sistem pendidikan kita, terutama terkait pelaksanaan Ujian Nasional. Sekolah yang mestinya menanamkan nilai-nilai moral untuk membentuk karakter pribadi yang unggul, justru mengajarkan praktik ketidakjujuran. Pihak sekolah atau pendidik tentu ingin semua peserta didiknya lulus dan prestise sekolah mereka terangkat. Kebanyakan orang tua pun pasti menginginkan anaknya lulus dengan nilai baik, meski tak peduli prosesnya. Namun, apakah niat baik itu mesti ditempuh dengan menghalalkan segala cara? Apakah sistem pendidikan kita turut andil dalam mengondisikan pihak sekolah, peserta didik dan orang tua mengutamakan nilai UN dan tingkat kelulusan daripada output pribadi peserta didik yang berkepribadian baik?

Thursday, March 21, 2013

3 JURUS AMPUH MERAIH KEBAHAGIAAN

Semua orang ingin meraih kebahagiaan dalam hidup. Bahagia di dunia, dan nantinya bahagia di akhirat. Itulah tujuan atau impian yang kita kejar dalam hidup ini. Persoalannya, kebahagiaan itu ternyata tidak mudah diraih. Butuh kiat khusus. Jurus ini sungguh ampuh atau tidak untuk meraih kebahagiaan, pertama-tama tergantung pada pemahaman kita tentang kebahagiaan.

Ada banyak persepsi tentang kebahagiaan itu. Persepsi akan kebahagiaan itu akan sangat menentukan upaya kita dan hasil akhir yang akan kita raih: kebahagiaan yang sejati atau kebahagiaan yang dangkal, semu dan sementara.  Kadang kita memiliki konsep yang kurang tepat atau kurang jelas tentang tentang kebahagiaan. Yang kita bayangkan dan kejar adalah kebahagiaan yang semu atau ternyata hanya kesenangan sesaat. Kebahagiaan seringkali kita sangka terletak pada kelimpahan materi, kekuasaan, kesuksesan, prestise dan popularitas. Padahal semua itu hanyalah sarana (yang bersifat relatif dan sementara), bukan tujuan sebenarnya yang akan kita raih. Maka pemahaman yang benar tentang kebahagiaan menjadi sangatlah penting agar kita dapat meraih kebahagiaan yang sejati.

Monday, March 18, 2013

BENCANA KEKERINGAN SPIRITUALITAS

Maraknya aksi kekerasan, korupsi, terungkapnya peredaran narkoba, praktek-praktek ketidakadilan dan penyalahgunaan wewenang tersaji di hadapan kita, baik secara langsung maupun lewat berbagi media. Fenomena tersebut bisa kita sebut sebagai “budaya kematian”, yang merusak pribadi dan tatanan hidup bersama. Mengapa di tengah masyarakat kita yang dikenal sangat religius karena menganut agama, melakukan praktek-praktek ibadah dan kesalehan serta memiliki banyak tempat ibadah ini masih sering terjadi kekerasan dan ketidakadilan? Meskipun ada berbagai alasan ekonomis, politis, sosial dan sebagainya yang melatarbelakangi terjadinya kekerasan dan praktek-praktek ketidakadilan itu, namun sejatinya ada alasan yang lebih mendalam lagi. Rupanya gejala kekerasan dan segala praktek ketidakadilan itu merupakan gejala "sakit kronis" yang diidap masyarakat kita, yakni kekeringan spiritualitas .

Saturday, March 16, 2013

WAWANCARA SEPUTAR "CYBER RELIGION"

Beberapa waktu lalu Lingkar Studi Profetika mewawancari saya seputar 3 topik: pertama,fenomena cyber religion yang direpresentasikan dari maraknya situs-situs keagamaan di internet. Kedua, diseminasi informasi atau pemikiran keagamaan dalam konteks kebebasan beragama dan berpendapat (demokrasi informasi). Dan ketiga, masa depan dialog antar agama dalam konteks kelimpahruahan informasi yang mungkin ada yang tak terverifikasi, tak terklarifikasi, mendiskreditkan, dan sebagainya (misal, Faith Freedom, dsb.)

1. Sebagai agamawan yang dibesarkan dan hidup di masa kini, kami rasa Romo sangat paham dengan media internet. Secara umum bagaimana tanggapan Romo keberadaan teknologi informasi itu?
Kita patut bersyukur, teknologi informasi dewasa ini berkembang pesat. Tentu perkembangan ini diharapkan dapat memberi manfaat positif bagi kehidupan manusia di segala dimensinya. Akses informasi dan komunikasi menjadi lebih cepat, lancar dan dapat dinikmati oleh banyak orang. Pertukaran ide, informasi dan diskusi atau belajar bersama dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien (mengatasi keterbatasan tempat, waktu dan beaya). Teknologi informasi juga dapat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya, kehidupan iman, sosial ekonomi, politik, budaya, dan dimensi hidup lainnya. Untuk itu teknologi informasi perlu dikembangkan sesuai nilai-nilai moral (seperti kebenaran, keadilan, perdamaian, penghormatan HAM, keutuhan ciptaan, dll) dan kode etik yang berlaku agar tujuan mulianya dapat tercapai, yakni demi kebaikan bersama (bonum commune). Tapi kita tidak menutup mata terhadap penyimpangan yang terjadi, teknologi informasi disalahgunakan untuk kepentingan sosial, politis, ekonomis dan ideologis yang tidak sesuai dengan nilai kebenaran, keadilan, perdamaian dan penghormatan martabat manusia serta perusakan lingkungan. Prinsip-prinsip etis moral dilanggar sehingga merusak kehidupan moral, spiritual dan sosial. Ini merupakan tantangan riil yang harus kita hadapi.

Friday, February 25, 2011

MEMBANGUN PAGUYUBAN UMAT KEUSKUPAN PURWOKERTO DALAM KONTEKS BUDAYA*)

Pada tanggal 27 April 2007 Keuskupan Purwokerto genap berusia 75 tahun. Sebuah umur yang tentu mencerminkan kematangannya karena telah melewati pergumulan yang panjang dalam membangun jati dirinya di wilayah eks-Karisidenan Banyumas, Kedu (bagian barat) dan Pekalongan ini. Namun proses itu tentu belumlah berakhir, peziarahan panjang untuk menghadirkan Kerajaan Allah di wilayah ini masih harus dijalani. Salah satu pergumulan yang harus dialami dalam peziarahan itu ialah bagaimana umat Katolik Purwokerto membangun jati diri dan menghayati cita rasa religiusnya (sensus fidei) sebagai umat Katolik Purwokerto, bukan bukan sekedar umat Katolik (Gereja) di Purwokerto.