/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}
Showing posts with label kepedulian sosial. Show all posts
Showing posts with label kepedulian sosial. Show all posts

Monday, April 8, 2013

BASMI "THE INVISIBLE POWER" PERONGRONG KEADABAN PUBLIK

Aksi kekerasan dan inflasi yang meresahkan

Meningkatnya aksi kekerasan dan inflasi karena naiknya harga beberapa produk hortikultura semakin meresahkan masyarakat. Hampir setiap hari masyarakat disodori berita tentang kekerasan di ruang publik yang dilakukan oleh para preman, aparat (TNI, Polri), masa pendukung calon bupati, dan warga sipil. Masyarakat juga resah oleh naiknya harga produk hortikultura terutama bawang putih dan cabai, menyusul daging sapi beberapa waktu lalu. Keresahan masyarakat itu rentan memicu aksi main hakim sendiri ketika ada peluang untuk menangkap pelaku kejahatan di ruang publik. Bila aksi kekerasan dan naiknya harga kebutuhan pokok tidak segera ditangani serius dikhawatirkan dapat menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintah dan aparat penegak hukum.

Berbagai pertanyaan bisa muncul terkait kondisi keresahan itu. Mengapa aksi-aksi kekerasan dan naiknya harga kebutuhan pokok tersebut terjadi? Adakah pihak-pihak yang sengaja menciptakan kondisi tersebut? Apakah maraknya aksi kekerasan dan naiknya harga kebutuhan pokok ada kaitannya dengan naiknya suhu politik menjelang pemilu 2014? Siapa yang paling diuntungkan oleh keresahan dan ketidakpercayaan masyarakat tersebut? Meski belum ada jawaban pasti, kiranya masyarakat patut waspada terhadap kemungkinan adanya kekuatan tersembunyi yang bermain di balik kondisi ini.

Thursday, April 4, 2013

PERGESERAN PARADIGMA UNTUK SELAMATKAN HUTAN INDONESIA


Kerusakan hutan dan peran Indonesia
Seperti kita ketahui, perubahan iklim (climate change) menjadi masalah global yang dihadapi dunia dewasa ini. Perubahan iklim merupakan bagian dari krisis ekologis yang mendesak untuk diatasi agar keseimbangan ekologis terjaga dan dunia menjadi tempat yang layak huni. Salah satu penyebab perubahan iklim yang terjadi di Indonesia adalah laju deforestasi dan degradasi yang begitu tinggi. Data tentang laju deforestasi (penggundulan dan pengalihan fungsi lahan hutan) di Indonesia memang berbeda-beda, misalnya Bank Dunia menyebut 700.000-1.200.000 ha/tahun. Sedangkan FAO menyebutkan laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 1.315.000 ha per tahun atau setiap tahunnya luas areal hutan berkurang sebesar satu persen (1%). Berbagai LSM peduli lingkungan mengungkapkan kerusakan hutan mencapai 1.600.000 – 2.000.000 ha per tahun. Bahkan lebih tinggi lagi data yang diberikan Greenpeace, yakni mencapai 3.800.000 ha per tahun. Semua data itu menunjukkan parahnya kerusakan hutan di Indonesia.[1] Padahal Indonesia termasuk 3 besar negara yang memiliki hutan terluas di dunia, namun sekaligus menjadi emiter (penghasil karbon yang lepas ke atmosfir secara sangat signifikan) nomor empat setelah China, India, Amerika Serikat (AS)[2]

Monday, March 18, 2013

KESEDERHANAAN PEMIMPIN: “OASE PENGHARAPAN" BAGI MASYARAKAT

Masyarakat Indonesia dan dunia akhir-akhir ini sedikit terhibur dengan hadirnya beberapa pemimpin yang menunjukkan cara hidup sederhana. Sebut saja misalnya Jokowi-Ahok, Mahfud MD, Dahlan Iskan, dan Paus Fransiskus memberi kesaksian hidup sebagai pemimpin yang memilih cara hidup sederhana di tengah berbagai fasilitas, kemudahan dan peluang yang selayaknya mereka nikmati. Itu semua seakan menjadi  sebuah “oase” di tengah gelimangnya fasilitas dan kemewahan yang dinikmati sebagian besar pejabat publik kita. Masyarakat sudah lelah dan muak akan kemewahan yang didapat dari kekuasaan, korupsi dan penyalahgunaan kewenangan yang dilakukan banyak pejabat publik, wakil rakyat dan tokoh partai. Penggunaan fasilitas, pemborosan uang rakyat dan penggelapan anggaran yang diikuti cara hidup yang serbah “wah” sungguh melukai hati dan rasa keadilan masyarakat kita. Airmata masyarakat yang sudah mengering karena luka hati yang terlalu dalam kini mendapat penghiburan dan harapan dengan munculnya tokoh-tokoh sederhana, berintegritas, jujur dan mengabdi dengan penuh dedikasi pada kepentingan rakyat. Upaya KPK mengusut berbagai kasus korupsi dan penyucian uang memperkuat harapan masyarakat dan patut terus kita dukung.

Tuesday, February 1, 2011

MAS MUGI BERSYUKUR ATAS BERKAT-NYA

Inilah ungkapan hati Mas Mugi yang bersyukur atas berkat Tuhan:
"Salam damai Kristus, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Bapa di surga atas berkat dan karunia yang telah dilimpahkan kepada kami sekeluarga, terlebih pada anak kami Gregorius Pandu Tri Winata (7 thn, 8 bln) yang kemarin (Sabtu, 22 Jan 2011)telah menjalani operasi di RS St Elisabeth Purwokerto. Saat ini anak kami telah sembuh dan sudah kembali masuk sekolah. Semua ini juga tak lepas dari peran semua pihak yang telah membantu keluarga kami dengan memberikan bantuan yang tidak bisa kami sebutkan apa dan jenisnya. Tetapi kami merasa bersyukur bahwa dalam kesulitan yang kami alami, Tuhan telah mengutus orang2 yang menjadi pilihanNYA untuk meringankan beban orang lain.

Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih yang sedalam2nya kepada semua pihak yang dengan kerelaannya ikut membantu kami. Kepada pihak Gereja melalui komisi PSE, baik yang ada di Paroki maupun yang ada di Keuskupan Purwokerto. Rm Teguh beserta stafnya, Rm Kristiaji, dan para Romo semuanya. Kami sekeluarga tidak bisa membalas dengan harta benda, hanya doa yang bisa kami panjatkan kehadirat Bapa di surga agar Roh Kudus dan berkatNYA selalu tercurah buat mereka semua dan keluarganya. Dan juga para Romo selalu di bimbing oleh Roh Kudus dalam karya penggembalaannya. Kami sekeluarga mohon maaf yang sebesar2nya karena telah membuat banyak pihak ikut menanggung apa yang kami alami. Sekali lagi, terima kasih dari kami Agustinus Mugiharto sekeluarga. Salam Damai Kristus."

*)Keterangan gambar: Gb1: Istri beserta anak-anak mereka di depan rumah (Sinta, anak kedua dan Pandu, anak ketiga. Sedangkan Agus anak pertama belum pulang sekolah ketika foto ini diambil). Gb2: Mas Mugi sedang cuci mobil di marga.

Thursday, January 27, 2011

DISKOIMKAT KEPRIHATINAN KEMISKINAN




Margasiswa, 19 Juni 2009
Aula margasiswa sore ini terasa sangat unik dengan hadirnya dekorasi kreatif dari teman-teman mahasiswa. Dekorasi ini sengaja dihadirkan untuk menumbuhkan suasana keprihatinan atas realitas kemiskinan yang menjadi masalah negeri ini. Tema Keprihatinan Kemiskinan yang menjadi pokok perhatian gereja Keuskupan Purwokerto pun coba digeluti bersama dalam Diskusi Kelompok Iman Katolik (DisKoImkat) bulan Juni ini.

Hadir sebagai narasumber adalah Sr. Anna Marie, OP yang mewakili Panitia TKK. Para mahasiswa terlibat aktif dalam memahami ajaran sosial gereja yang menjadi landasan teologis dari tahun keprihatinan ini. Berbagai pertanyaan dan analisa kritis yang terlontar semakin mempertajam diskusi.

Muncul beberapa bentuk kepedulian nyata yang akan diwujudkan dalam menghadapi masalah kemiskinan di wilayah ini. Sebagai contoh, para mahasiswa akan terlibat dalam gerakan seratus rupiah (Gerah), pendampingan kelompok belajar anak di Karanglewas, live in, dan beberapa kegiatan sosial lainnya. Terima kasih untuk Sr Anna Marie, OP dan fr Heri serta teman-teman mahasiswa yang terlibat aktif dalam DisKoImKat kali ini.

Lihat foto-foto kegiatan di sini

Saturday, February 20, 2010

KEHANGATAN DI GUNUNG TUGEL

Purwokerto, 24 Juni 2008; 23:34
Dear all,
Aku barusan dapat pengalaman menarik nih (bukan menarik becak lho...). Aku diajak Rm Teguh dari Komisi PSE untuk berkunjung ke Gunung Tugel bersama Sendy, Sony dan Budi.
Kami mengadakan pertemuan dengan warga RT setempat di rumah Pak Tolha yang biasa dipakai untuk belajar bagi anak-anak.*) Pertemuan dihadiri oleh kurang lebih 25 orang (terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak). Tujuan pertemuan untuk mengadakan evaluasi atas kegiatan belajar bersama yang diasuh beberapa teman mahasiswa kita.

Friday, February 19, 2010

KiSS (Kisah Seputar Solidaritas)

Minggu, 31 Januari 2010.
Kunjungan Kasih ke Kampung Laut.
Bersama 6 orang mahasiswa, beberapa orang anggota WKRI DPD Purwokerto, umat Paroki Cilacap dan Tim Karito, saya mengadakan sebuah perjalanan perdana ke Kampung Laut, Kabupaten Cilacap. Sungguh merupakan pengalaman yang mengesankan bagi saya bisa
mengunjungi Kampung Laut berkat tawaran kerjasama dari Karito untuk melanjutkan program emergency response mereka. Terima kasih kepada Karito atas tawaran kerjasama ini.