/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Friday, January 18, 2013

JADILAH PEMBAWA DAMAI

Kita selalu bisa memilih, menjadi pembawa kedamaian atau pembawa perselisihan.
Jangan jadikan musuh pribadi mu menjadi musuh semua orang.
Jangan mudah menghasut orang lain, yang kamu sendiri belum tentu benar.
Jangan menjadi penebar kebencian & dendam pribadi.
Jangan jadikan musuh pribadi orang lain menjadi musuhmu juga.
Orang bijak tidak akan mengajak dan membuat orang lain untuk membenci orang lain yang tak disukainya.

Wednesday, November 28, 2012

PERJALANAN CINTA

Hidup adalah sebuah perjalanan mencari "CINTA". Sebuah perjalanan yg terkadang mesti ditempuh dengan mendaki dan menuruni bukit, menyusuri lorong yang berkelok dan berbatu, menembus badai dan gelapnya malam.
Namun kekuatan iman, kasih dan pengharapan akan menuntun kita menemukan Sang Cinta di taman bunga kehidupan yg indah. Selamat berjalan mencari Sang Cinta. GBU

Thursday, May 31, 2012

PEMIMPIN YANG INKLUSIF DAN TRANSFORMATIF


Akhir-akhir ini masyarakat lewat media massa, seminar dan berbagai kesempatan menyorot sosok dan kinerja pemimpin, pejabat pemerintah, wakil rakyat dan pemimpin partai di negeri ini. Keterlibatan mereka dalam kasus penyalahgunaan wewenang dan KKN makin melukai rasa keadilan masyarakat dan menimbulkan krisis kepercayaan yang makin parah di kalangan masyarakat. Selama beberapa dekade negeri kita mengalami krisis kepemimpinan atau tiadanya figur pemimpin negeri yang berintegritas dan dicintai rakyatnya karena mampu memberdayakan seluruh potensi alam (SDA) maupun manusianya (SDM) demi tercapainya masyarakat adil, makmur dan sejahtera. Yang terjadi kepemimpinan lebih dipandang sebagai suatu kedudukan, jabatan dan prestise yang harus dikejar dan diperebutkan dengan ‘modal’ besar (bukan kapasitas diri). Alih alih bersinergi untuk memperjuangkan kepentingan bersama, para pemimpin sibuk mengutamakan pencitraan, mementingkan diri dan kelompoknya. Selain itu, carut marut negeri ini juga diperparah oleh krisis moral dan spiritual, di mana nilai-nilai moral spiritual tidak dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan nyata. Akibatnya kekerasan, ketidakadilan, intoleransi, keserakahan, egoisme kelompok dan kepentingan pragmatis makin merajalela mencederai kehidupan bersama.
Di tengah situasi bangsa yang sedang mengalami berbagai “krisis” ini, pemimpin religius ditantang untuk turut memberi kontribusi nyata agar negeri ini bisa bangkit dari keterpurukan. Peran utama yang mesti dimainkan adalah memperjuangkan nilai-nilai moral spiritual agar menjiwai seluruh kehidupan bangsa ini. Bagaimana perjuangan itu dapat diwujudnyatakan?

Thursday, May 24, 2012

TEMAN SEPERJALANAN OMK

Demam pertunjukan grup band asal Korea di Jakarta melanda orang muda Jakarta dan sekitarnya beberapa waktu lalu. Bahkan banyak orang muda dari Lampung dan kota-kota di luar jawa yang bela-belain datang beberapa hari sebelumnya untuk mendapatkan tiket masuk yang mahal. Antrian panjang berjam-jam rela dijalani. Dan bila sudah berhasil masuk ke area pertunjukkan, mereka rela berdesak-desakan menyaksikan penampilan artis idola mereka sambil berjingkrak jingkrak, turut menyanyikan lirik-lirik lagu sang artis dan berteriak histeris saat idola mereka menyapa atau menampilkan gaya yang memukau. Kerinduan orang muda itu dijawab dengan sangat cerdas oleh industri musik dan hiburan yang menyajikan pertunjukkan spektakuler beromzet ratusan juta bahkan milyar itu (dan tentu mengeruk untung ratusan juta pula). Pertanyaannya: mengapa orang muda begitu antusias terhadap event atau pertunjukan seperti itu? Utamanya, kita dapat menemukan jawabannya pada pergumulan orang muda sendiri yang memiliki beberapa ciri:

Pertama, perkembangan kejiwaan orang muda yang ditandai oleh semangat, kegembiraan, rindu akan sesuatu yang menghibur dan kecenderungan ikut trend agar tidak ketinggalan jaman dan diterima oleh teman-teman sebayanya.

Wednesday, April 11, 2012

BILA HIDUP TERASA GERSANG

Dalam perjalanan hidup ini kadang kita mengalami situasi kegersangan (istilah rohaninya: desolasi). Gersangnya hidup bisa muncul saat kita mengalami beban hidup yang berat, kekecewaan, kepedihan mendalam, kekeringan spiritual/rohani, hidup terasa hampa atau tak berarti dan kehilangan arah. Perasaan sepi, ditinggalkan dan tidak dihargai mendera hati kita di saat kegersangan itu terjadi. Relasi dengan Tuhan dan sesama pun menjadi kering dan kehilangan maknanya. Apa yang harus kita perbuat menghadapi kegersangan hidup ini?

Pertama, kita belajar untuk jujur dan berani menerima keadaan itu sebagai kenyataan yang sedang kuhadapi. Merangkul perasaan-perasaan itu sebagai bagian hidup dan pengalaman kita. Langkah ini membantu kita meredam rasa penolakan kita terhadap kenyataan pahit itu. Pada tahap ini kita menoba bertahan, tidak lari dan mengambil keputusan sesaat.

Monday, April 2, 2012

AKU DAN SESAMAKU SEBAGAI ANUGERAH

Kita mengenal Mother Theresa dengan segala karya cinta kasihnya bagi orang miskin, kusta, terlantar di jalan-jalan kota Calcuta India. Apa yang mendorong Mother Theresa melakukan tindakan itu? Tidak lain karena dia melihat mereka itu sebagai orang yang berharga, berhak mendapatkan cinta dan perhatian yang semestinya. Tindakan Mother Theresa itu mengingatkan kita akan sabda Yesus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Yesus mengidentikkan diri dengan mereka yang miskin, sakit, telanjang, dalam penjara, yatim piatu, terlantar, dan berdosa. Keadaan riil mereka tidak menghilangkan identitas dan keberadaan sebagai CITRA ALLAH. Mother Theresa melihat wajah Allah yang hadir dan peduli pada diri saudara-saudari kita itu. Bahkan kehadiran mereka menjadi “undangan” atau panggilan untuk menyatakan cinta yang tulus, cinta yang memanusiakan atau mengangkat kembali martabat luhur yang dianugerahkan Allah.

Saturday, March 31, 2012

MEMBANGUN JEMBATAN


Dalam relasi, mari kita berusaha selalu membangun "jembatan" daripada "tembok"(cemburu, curiga, kepentingan diri, kekawatiran) yang memisahkan satu-sama lain. "Jembatan" itu bisa berupa kepercayaan, saling menghargai, kemurahan hati, ketulusan, saling pengertian dan kerelaan berbagi....agar jalinan relasi semakin menghidupkan. Semoga.